Tubuh langsing menjadi dambaan banyak orang.
Bukan hanya soal stereotipe tubuh langsing terlihat lebih cantik atau
ganteng. Tapi, dalam tubuh langsing itu ada “bonus” yang lebih besar,
yakni tubuh lebih sehat. Namun, ketika ingin melangsingkan tubuh,
kebanyakan dari mereka tak bisa membatasi jumlah makanan yang masuk ke
dalam tubuhnya. Mereka cenderung ingin langsing dengan cara instan
tanpa memedulikan dampaknya.
Dokter spesialis gizi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Samuel Oetoro mengatakan, orang yang bertubuh
gemuk harus berpikir realistis. Selain itu, pola berpikirnya
mengutamakan tubuh langsing karena ingin hidup lebih sehat. “Seringkali
yang didahulukan cantik, jadi pengin cepat-cepat,” ucap Samuel Oetoro,
beberapa waktu lalu.
Dia menerangkan, orang bertubuh gemuk pun menggunakan cara-cara
instan untuk menguruskan tubuhnya. Misalnya, menggunakan obat
pelangsing yang membuat seseorang sering buang air kecil (BAK) atau
buang air besar (BAB). Cara itu bisa menyebabkan dehidrasi dan
menganggu kerja ginjal.
Ada juga cara “sesat” menguruskan badan secara berlebihan dengan
membiarkan tubuh kelaparan. Sehari hanya mengosumsi apel 7 buah atau
minum air kelapa dari lima butir kelapa saja, tanpa makanan sedikit
pun. “Memang berat badannya cepat turun. Tapi cara-cara inilah yang
membuat orang gemuk masuk rumah sakit karena badannnya jadi lemas.
Metabolisme tubuh jadi rusak,” kata Samuel Oetoro. Cara itu akan
menyebabkan sakit kepala, rambut rontok, kelelahan, asam urat, kepala
botak, dan gairah seks menurun.
Dia menegaskan, ketika ingin mengurangi kegemukan tidak dengan cara
instan atau cepat, melainkan dengan menerapkan konsep makan dikurangi
dan aktivitas diperbanyak. Selain itu, yang paling penting adalah
mengubah gaya hidup. Diet atau mengatur pola makan bisa saja mengurangi
berat badan.
Tapi, kalau gaya hidupnya tidak berubah maka berat badan akan
kembali naik dengan cepat. Seperti permainan yoyo, berat badan turun
dengan cepat, tapi juga dapat naik dengan cepat. Akibatnya, mereka yang
ingin langsing menjadi bosan karena diet yang dilakukannya tak ada
dampaknya.
Atur makan
“Kurangi makanan seperempat dari biasanya. Kalau biasanya makan dua
piring setiap makan. Kurangi jadi satu setengah piring. Kalau makan dua
potong ayam, kurangi jadi satu setengah potong,” kata Samuel Oetoro.
Selain mengurangi porsi makan, lakukan juga pengaturan makan. Pilih
makanan rendah kalori. Menurutnya, penurunan berat badan yang ideal
bisa menurunkan berat 2-3 kilogram per bulan. Caranya, tetap makan 3
kali sehari dengan menu seimbang antara lemak, protein, karbohidrat,
serat, mineral, dan vitamin. Serta, tidak mengonsumsi makanan berlemak
dan berkalori tinggi.
Salah satu makanan berlemak dan berkalori tinggi, yakni makanan
goreng-gorengan. Sebagai perbandingan 1 gram karbohidrat menghasilkan 4
kilokalori (kkal). Sementara 1 gram menghasilkan 9 kkl.
“Ingin langsing kurangi lemak. Pilih makanan yang tahan lapar.
Terutama yang mengandung serat seperti kentang rebus, apel, dan
sayur-sayuran,” ujar dokter yang bertugas di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM) dan MRCC Semanggi, tersebut.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh dr Phaidon L Toruan. Agar
asupan karbohidrat tetap masuk, pilih karbohidrat kompleks ketimbang
karbohidrat sederhana. Karbohidrat kompleks yang juga lebih banyak
mengandung serat akan membuat perut lebih tahan lapar. Contoh
karbohidrat sederhana, antara lain nasi putih, mi, donat, bubur ayam,
dan permen. Karbohidrat kompleks, antara lain beras merah, roti gandum,
kentang rebus dengan kulitnya. “Makan buah 3 kali sehari. Yang membuat
tubuh sehat, buah bukan nasi. Mikronutrien dari buah sangat
dibutuhkan,” ujar dr Phaidon, Senin (30/4).
Hindari juga makanan yang digoreng. Selain menyumbang asupan lemak,
makanan gorengan juga akan membuat ikatan oksigen di dalam darah akan
turun 20 persen.
Olahraga
Olahraga sangat berperan dalam menurunkan berat badan. Aktivitas itu
bisa dilakukan kapan pun dengan durasi minimal 30 menit. “Karena
pembakaran lemak baru terjadi ketika aktivitas lebih dari 30 menit,”
ujar dr Samuel.
Dia menyarankan olahraga jalan pelan selama 30 menit. Namun jika
badan terlalu gemuk pilih renang atau sepeda. “Kalau badan terlalu
gemuk pilih olahraga yang mengambang atau tidak menempel tanah. Karena
kalau dipaksakan akan membuat lutut jebol dan terjadi gesekan di antara
paha yang membuat iritasi,” kata Samuel Oetoro.
Olahraga yang terlalu tinggi intensitasnya malah akan membuat
pembuluh darah tersumbat dan pecah. Kasus atlet atau pesohor yang
meninggal seusai berolahraga biasanya disebabkan karena pembuluh darah
pecah.
Phaidon mengatakan, ketika tubuh sehat, hubungan seks pun lancar dan
keluarga menjadi lebih harmonis. “Kalau tubuh tidak gemuk, seks juga
bisa bagus, dan ini disukai kaum pria. Kalau wanita, tubuh langsing
akan membuat lebih cantik karena wanita paling tidak suka jika dibilang
jelek,” ujar Phaidon.
Sedangkan cara menurunkan berat badan dengan mengonsumsi obat harus
dalam pengawasan dokter. “Yang menjatuhkan semangat untuk menjadi
langsing biasanya sudah berusaha tapi berat badan hanya turun sedikit.
Sehingga biasanya dokter memberikan obat,” ujar Samuel.
Jenis obat yang diresepkan biasanya bisa memblok lemak masuk ke
tubuh hingga 30 persen. Namun, obat harus dihentikan ketika individu
itu sudah berhasil menurunkan berat badan dan mencapai berat badan
idealnya. Alasannya, tetap ada kontradiksi penggunaan obat. Terutama
orang yang punya gangguan batu empedu karena membutuhkan makanan
berlemak. Jika diblok dengan obat akan membuat tidak ada rangsangan
kerja empedu, sehingga akan membentuk tumbukan batu empedu lagi.
“Itulah sebabnya penggunaan obat harus dengan pengawasan dokter, bukan
obat bebas,” ucapnya menegaskan.
Timbunan lemak pada tubuh gemuk, bisa tersebar di bawah kulit.
Namun, yang paling tampak di bagian perut. Jangan pandang pria buncit
sebagai lambang kemakmuran, tapi pertanda kelebihan berat badan. Batas
normal lingkar pinggang pada pria di bawah 94 cm dan wanita kurang dari
80 cm. Jika sudah lebih dari angka itu, berarti sudah kelebihan berat
badan dan lemak sudah tersimpan di perut.
Samuel mengatakan, lemak di perut meningkatkan kadar kolesterol
jahat, memicu penambahan lemak dalam aliran darah sehingga meningkatkan
tekanan darah dan kadar gula. Hal itu akan memicu berbagai penyakit
degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung, stroke, dan kanker.
Yuk, mulai dari sekarang terapkan gaya hidup sehat!
call me 0857-3582-9803